Thursday, December 31, 2009

Yang tidak bisa diucapkan AYAH...............


Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya.. akan sering merasa kangen sekali dengan Bundanya.

Lalu bagaimana dengan Ayah?
Mungkin karena Bunda lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Ayah-lah yang mengingatkan Bunda untuk menelponmu?
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Bunda-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Ayah bekerja dan dengan wajah lelah Ayah selalu menanyakan pada Bunda tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil.. Ayah biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. Dan setelah Ayah mengganggapmu bisa, Ayah akan melepaskan roda bantu di sepedamu...

Kemudian Bunda bilang : "Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya"
Bunda takut putri manisnya terjatuh lalu terluka....

Tapi sadarkah kamu?

Bahwa Ayah dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Bunda menatapmu iba. Tetapi Ayah akan mengatakan dengan tegas : "Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang"

Tahukah kamu, Ayah melakukan itu karena Ayah tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

Saat kamu sakit pilek, Ayah yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : "Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!".

Berbeda dengan Bunda yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu Ayah benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja.... Kamu mulai menuntut pada Ayah untuk dapat izin keluar malam, dan Ayah bersikap tegas dan mengatakan: "Tidak
boleh!".

Tahukah kamu, bahwa Ayah melakukan itu untuk menjagamu? Karena bagi Ayah, kamu adalah sesuatu yang sangat - sangat luar biasa berharga..

Setelah itu kamu marah pada Ayah, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu... Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Bunda....

Tahukah kamu, bahwa saat itu Ayah memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, bahwa Ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu, tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?
Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Ayah akan memasang wajah paling cool sedunia.... :')

Ayah sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..

Sadarkah kamu, kalau hati Ayah merasa cemburu?

Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Ayah melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.

Maka yang dilakukan Ayah adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir...dan setelah perasaan khawatir itu berlarut- larut... ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Ayah akan mengeras dan Ayah memarahimu.. .

Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Ayah akan segera datang? "Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Ayah"

Setelah lulus SMA, Ayah akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.

Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Ayah itu semata - mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti...

Tapi toh Ayah tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Ayah

Ketika kamu menjadi gadis dewasa.... dan kamu harus pergi kuliah dikota lain... Ayah harus melepasmu di bandara.

Tahukah kamu bahwa badan Ayah terasa kaku untuk memelukmu?

Ayah hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .

Padahal Ayah ingin sekali menangis seperti Bunda dan memelukmu erat-erat.

Yang Ayah lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata "Jaga dirimu baik-baik ya sayang".

Ayah melakukan itu semua agar kamu KUAT...kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Ayah.

Ayah pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.

Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Ayah tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan...

Kata-kata yang keluar dari mulut Ayah adalah : "Tidak.... Tidak bisa!"

Padahal dalam batin Ayah, Ia sangat ingin mengatakan "Iya sayang, nanti Ayah belikan untukmu".

Tahukah kamu bahwa pada saat itu Ayah merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.

Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.

Ayah akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat "putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang"

Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Ayah untuk mengambilmu darinya.

Ayah akan sangat berhati-hati memberikan izin..

Karena Ayah tahu.....

Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

Dan akhirnya.... Saat Ayah melihatmu duduk di Panggung Pelaminan
bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Ayah
pun tersenyum bahagia....

Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Ayah pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?

Ayah menangis karena ayah sangat berbahagia, kemudian Ayah berdoa.... Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Ayah berkata: "Ya Tuhan tugasku telah selesai dengan baik.... Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik.... Bahagiakanlah ia bersama suaminya..."

Setelah itu Ayah hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk...

Dengan rambut yang telah dan semakin memutih.... Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya....

Ayah telah menyelesaikan tugasnya....



Ayah kita... Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat... Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis...

Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .

Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa "KAMU BISA" dalam segala hal..

Banyak hal yang mungkin tidak bisa dikatakan Ayah kita... tapi setidaknya kini kita mengerti apa yang tersembunyi dibalik hatinya ;)

Yes I love you so much, Father ..

DEMIKIAN DENGAN BAPA YANG DI SURGA SELALU MEMPERHATIKAN KITA DAN MENJAGA KITA ...... Mzm 23

Thursday, December 24, 2009

Kisah Natal: INJIL menurut toko serba ada

Ada kisah tentang kebaikan dan kasih yang tercecer dari antara perayaan-perayaan Natal, semacam kisah Orang Samaria yang Baik Hati. Kisah tentang kasih yang indah ini sayangnya tidak terjadi di gereja, tetapi di sebuah toko serba ada (Dept. Store) di Amerika Serikat.

Pada suatu hari seorang pengemis wanita, yang dikenal dengan sebutan "Bag Lady" (karena segala harta-bendanya termuat dalam sebuah tas yang ia jinjing kemana-mana sambil mengemis), memasuki sebuah Dept. Store yang mewah sekali. Hari-hari itu adalah menjelang hari Natal. Toko itu dihias dengan indah sekali. Semua lantainya dilapisi karpet yang baru dan indah. Meskipun bajunya kotor dan penuh lubang, pengemis ini tanpa ragu-ragu memasuki toko ini. Badannya mungkin sudah tidak mandi berminggu-minggu. Bau badan menyengat hidung.

Ketika itu, ada seorang hamba Tuhan mengikutinya dari belakang. Ia berjaga-jaga, kalau petugas sekuriti toko itu mengusir pengemis ini, sang hamba Tuhan mungkin dapat membela atau membantunya. Wah, tentu pemilik atau pengurus toko mewah ini tidak ingin ada pengemis kotor dan bau mengganggu para pelanggan terhormat yang ada di toko itu. Begitu pikir sang hamba Tuhan.

Tetapi pengemis ini dapat terus masuk ke bagian-bagian dalam toko itu. Tak ada petugas keamanan yang mencegat dan mengusirnya. Aneh ya, padahal, para pelanggan lain berlalu lalang di situ dengan setelan jas atau gaun yang mewah dan mahal. Di tengah toko itu ada piano besar (grand piano) yang dimainkan seorang pianis dengan jas tuksedo, mengiringi para penyanyi yang menyanyikan lagu-lagu Natal dengan gaun yang indah. Pengemis itu kelihatan sangat tidak cocok dengan suasana di toko itu. Ia nampak seperti makhluk aneh di lingkungan yang gemerlapan itu, tetapi sang 'Bag Lady' jalan terus. Sang hamba Tuhan itu juga mengikuti terus dari jarak tertentu.

Rupanya pengemis itu mencari sesuatu di bagian gaun wanita. Ia mendatangi counter paling eksklusif yang memajang gaun-gaun mahal ber-merek (branded items) dengan harga diatas 00 untuk satu gaun. Kalau dikonversi dengan kurs akhir-akhir ini, harganya dalam rupiah pasti lebih dari Rp. 20 juta untuk satu gaun.

Baju-baju yang mahal dan mewah! Apa yang dikerjakan pengemis ini? Sang pelayan bertanya, "Apa yang dapat saya bantu bagi anda?" "Saya ingin mencoba gaun merah muda itu!"

Kalau anda ada di posisi sang pelayan itu, bagaimana respons anda? Wah, kalau pengemis ini mencobanya tentu gaun-gaun mahal itu akan jadi kotor dan bau, dan pelanggan lain yang melihat mungkin akan jijik membeli baju-baju ini setelah dia pakai. Apalagi bau badan orang ini begitu menyengat, tentu akan merusak gaun-gaun itu.

Tetapi mari kita dengarkan apa jawaban sang pelayan toko mewah itu. "Berapa ukuran yang anda perlukan?" "Tidak tahu!" "Baiklah, mari saya ukur dulu."

Pelayan itu mengambil pita meteran, mendekati pengemis itu, mengukur bahu, pinggang, dan panjang badannya. Bau menusuk hidung terhirup ketika ia berdekatan dengan pengemis ini. Ia cuek saja. Ia layani pengemis ini seperti satu-satunya pelanggan terhormat yang mengunjungi counternya.

"OK, saya sudah dapatkan nomor yang pas untuk nyonya! Cobalah yang ini!" Ia memberikan gaun itu untuk dicoba di kamar pas.

"Ah, yang ini kurang cocok untuk saya. Apakah saya boleh mencoba yang lain?" "Oh, tentu!" Pelayan ini menghabiskan waktu kurang lebih dua jam lamanya untuk melayani sang "Bag Lady".

Apakah pengemis ini akhirnya membeli salah satu gaun yang dicobanya? Tentu saja tidak! Gaun seharga puluhan juta rupiah itu jauh dari jangkauan kemampuan keuangannya. Pengemis itu kemudian berlalu begitu saja, tetapi dengan kepala tegak karena ia telah diperlakukan sebagai layaknya seorang manusia. Biasanya ia dipandang sebelah mata. Tapi hari itu, ada seorang pelayan toko yang melayaninya, menganggapnya seperti orang penting, dan yang mau mendengarkan permintaannya.

Tetapi mengapa pelayan toko itu mau repot-repot melayaninya? Bukankah kedatangan pengemis itu membuang-buang waktu dan memakan biaya bagi toko itu karena harus mengirim gaun-gaun yang sudah dicoba itu ke Laundry agar dicuci bersih supaya kembali tampak indah dan tidak bau. Pertanyaan ini juga mengganggu sang hamba Tuhan yang memperhatikan apa yang terjadi di counter itu.

Kemudian hamba Tuhan ini bertanya kepada pelayan toko itu setelah ia selesai melayani tamu "istimewa"-nya. "Mengapa anda membiarkan pengemis itu mencoba gaun-gaun indah ini?" "Oh, sudah menjadi tugas saya untuk melayani dan berlaku ramah."

"Tetapi, anda 'kan tahu bahwa pengemis itu tidak mungkin sanggup membeli gaun-gaun mahal ini?"

"Maaf, soal itu bukan urusan saya. Saya tidak dalam posisi untuk menilai atau menghakimi para pelanggan saya. Tugas saya adalah untuk melayani dan berbuat baik."

Hamba Tuhan ini tersentak kaget. Di jaman yang penuh keduniawian ini ternyata masih ada orang-orang yang tugasnya adalah melayani dan berbuat baik, tanpa perlu menghakimi orang lain. Hamba Tuhan ini akhirnya memutuskan untuk membawakan khotbah pada Hari Minggu berikutnya dengan thema "Injil Menurut Toko Serba Ada". Khotbah ini menyentuh banyak orang, dan kemudian diberitakan di halaman-halaman surat kabar di kota itu. Berita itu menggugah banyak orang sehingga mereka juga ingin dilayani di toko yang eksklusif itu.

Pengemis wanita itu tidak membeli apa-apa, tidak memberi keuntungan apa-apa. Namun akibat perlakuan istimewa toko itu kepadanya, hasil penjualan toko itu meningkat drastis, sehingga pada bulan itu keuntungan naik 48 %.

Ungkapan Hati : sebuah rasa


Dalam keheningan tiada sapa
Dalam malam yang penuh kebisuan
Dalam perasaan yang tiada berbentuk
Dalam kebisuan yang tanpa alas an

Kucoba merajut kembali kisah yang lama
Menguntai benang-benang dalam letih
Kini putus tiada berujung
Hancur berkeping tiada bentuk

Dalam kesempatan yang sangat singkat
Dalam waktu yg berlari begitu cepat
Akankah kutuliskan kembali kisah indahnya
Akankah dapat kuukirkan kembali cerita yang dulu seperti kunantikan

Dalam hatinya tiada lagi namaku
Dalam nafasnya tiada lagi diriku
Dalam jiwanya tiada lagi rasaku
Dalam hidupnya tiada lagi kisahku

Biarkanlah semuanya pergi bersama sang waktu
Biarkanlah semuanya terbang bersama sang angin
Biarkanlah semuanya tenggelam bersama tenggelamnya sang surya
Biarkanlah semuanya berlalu, sampai akhirnya nanti kutemukan pelabuhan terakhir dan itulah DUNIAKU

Akan kulewati semuanya bersama sang Khalik
Hidup ini harus terus berjalan
Ada ataupun tanpa dia, dan
Aku masih memiliki IMPIAN yang jauh lebih dari apa pun bersama-NYA

Tithoez

Wednesday, December 16, 2009

hadiah Natal untuk Alma...

Saat itu adalah malam menjelang natal di tahun 1970 dan seorang anak perempuan kecil berdoa untuk sebuah boneka. Dia tak pernah memiliki boneka selama ini. Alma memandang ke sekeliling rumahnya, rumah pertanian yang sederhana. Tidak ada pohon natal di sudut rumah. Tak ada lilin yang menyala di jendela. Tidak ada tumpukan kado Natal di atas meja. Tapi, rumah itu terlihat bersih dan hangat dan Alma merasa bahagia dan bersyukur.
Alma mencintai rumahnya dan dia juga mencintai gereja kecil bercat putih yang ada di desanya. Di gereja itu, dia mendengar kisah tentang Bayi Jesus yang juga miskin, yang bahkan tidak memiliki sebuah kasur untuk tidur, dan yang lahir di atas tumpukan jerami di sebuah gudang ternak. Dia mendengarkan cerita tentang kelahiran-Nya berulang-ulang dengan rasa kagum dan hormat.

Malam ini Alma merasa sangat bahagia. Program Natal Tahunan di gerejanya mengundang hampir seluruh keluarga yang tinggal di sebuah sisi bukit kecil, desa Pennsylvania itu untuk bernatalan di gereja. Alma, bersama ibu dan adik-adiknya, berjalan menuruni jalanan desa yang panjang, melalui salju tebal yang telah disesaki oleh kereta gerobak dan salju yang ditarik oleh kuda. Suasana Norman Rockwell tergambar saat itu, saat-saat Amerika permulaan, cuaca yang dingin, malam di musim dingin yang mempercepat langkah-langkah kaki manusia, namun menyegarkan jiwa.

Setelah duduk di dalam gereja, Alma memandang ke sekelilingnya. Murid-murid sekolah minggu telah menghias pohon natal yang berdiri di depan altar di dekat piano. Lilin-lilin di pohon natal itu memberikan sebuah cahaya lembut ke bagian atas gereja. Kemudian pendeta membaca kisah tentang kelahiran Jesus, kemudian mengundang setiap orang menyanyikan kidung puji-pujian setelah lagu-lagu Natal. Seorang pembantu gereja (penatua) memberikan kepada masing-masing anak kecil sejumlah cokelat dan permen yang dibungkus dalam sebuah kertas serbet dan diikat dengan pita merah.

Di bawah pohon Natal, terdapat tumpukan kado Natal yang tinggi. Saat itu merupakan kebiasaan bagi para keluarga untuk membawa hadiah mereka – yang akan diberikan kepada anggota keluarga yang lain dan teman – ke gereja dan hadiah itu akan dibuka di depan semua jemaat yang hadir. Tidak pernah lepas dari perhatian Alma, bahwa seperti biasanya, ibunya tidak membawa hadiah apa pun dan Alma pun tidak berharap apa-apa. Ayahnya jarang pulang ke rumah. Hal ini karena ayahnya adalah seorang penebang kayu dan seorang pengumpul ginseng. Ketika ayahnya pulang, uang yang tersedia sangat sedikit.

Akhirnya, pendeta berjalan menuju pohon Natal, mengambil kado pertama dan berkata,”Kado ini untuk Blanche dari kedua orang tuanya”. Semua orang bertepuk tangan ketika Blanche dengan gembira berjalan ke depan untuk menerima hadiah. Hadiah itu berupa switer indah berwarna putih yang dijahit dengan tangan.

Pendeta mengambil kado demi kado, memanggil hampir setiap orang yang  ada di gereja. Semua anak laki-laki mendapatkan kereta api mainan  yang terbuat dari ukiran kayu dari ayah mereka; kereta salju mainan baru diangkat tinggi-tinggi oleh pendeta supaya dilihat oleh semua jemaat;berbotol-botol parfum dengan merek “April in Paris” dipersembahkan oleh para anak perempuan kepada ibu mereka. Sebuah gangsing dengan warna merah menyala berputar mengitari lantai kayu gereja. Semua memandang dengan gembira. Alma pun ikut tertawa dan bertepuk tangan. Dan dia menunggu dan menunggu kado dari pendeta.

Akhirnya, pendeta pun mengambil kado terakhir. Alma menahan napas. Kado ini pasti untuknya;boneka yang seringkali ia doakan. “Christine,” pendeta memanggil sebuah nama,”kado ini untukmu”. Christine membuka kotak yang panjang dan sempit itu dan dengan hati-hati mengeluarkan sebuah boneka porselin besar dengan rambut blonde, mengenakan gaun panjang merah muda dan topi yang sesuai. Christine memeluk boneka itu dengan erat, dan berlari ke arah ayah-ibunya untuk berterima kasih atas hadiah mewah itu.
Alma berdiri dengan tenang ketika lagu puji-pujian terakhir dinyanyikan dan setiap anak dengan satu lengan penuh berjuang membawa kado-kado itu ke kereta mereka. Akhirnya, Alma mengikuti keluarganya keluar dari gereja dan memulai perjalanan panjang ke rumah.

Dengan cepat, dia berjalan ke arah sebuah tonggak kayu dimana kuda  biasa ditambatkan, dan tanpa sengaja menabrakkan keningnya hingga
terjatuh ke belakang ke arah gumpalan salju. Dengan rasa bingung, ia kembali berdiri dan berjalan sempoyongan untuk bergabung dengan keluarganya yang sama sekali tidak melihatnya jatuh. Sebuah benjolan seperti telur dengan cepat membesar di keningnya, sebuah benjolan tulang yang tetap terlihat jelas sepanjang hidupnya. Namun, Alma terlihat seperti menganggapnya layaknya sebuah lencana kehormatan  dan dengan tertawa menyebutnya sebagai kado Natal di tahun 1907.  Alma tidak menganggap kecelakaan itu sebagai kenangan pahit, tapi  sebagai sebuah kemenangan. Alma, seorang penganut Kristiani yang  bahagia sepanjang hidupnya hingga meninggal di usia yang ke 96.

Catatan :
Alma adalah ibu dari Mariane Holbrook, seorang pensiunan guru, pengarang dua buku, seorang musisi dan seniman. Dia tinggal bersama suaminya di Pantai Carolina Utara.

Dua BAYI dalam palungan

Di tahun 1994, dua orang Amerika menanggapi undangan Departemen Pendidikan Rusia untuk mengajar Moral dan Etika berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab di sekolah-sekolah umum. Mereka diundang mengajar di penjara-penjara, kantor-kantor, departemen kepolisian, pemadam kebakaran, dan disebuah tempat yatim piatu yang besar.

Ada sekitar 100 anak laki-laki dan perempuan penghuni di situ, yang terbuang, ditinggalkan dan sekarang ditampung dalam program pemerintah. Beginilah kisah dalam kata-kata mereka:
Waktu itu mendekati musim libur tahun 1994, sewaktu anak-anak yatim piatu kita - untuk pertama kalinya - mendengar kisah Natal. Kami cerita soal Maria dan Jusuf, yang sesampai di Bethlehem, sebab tak mendapat penginapan, lalu pergi kesebuah kandang binatang, dimana bayi Yesus lahir dan diletakkan dalam sebuah palungan.

Sepanjang cerita itu, anak-anak maupun staf rumah yatim itu terpukau diam, terpaku takjub mendengarkan. Beberapa diantaranya bahkan duduk diujung depan sekali kursi mereka seakan agar bisa lebih menangkap tiap kata. Seusai ceriteranya semua anak-anak kami beri tiga potong kertas karton untuk membuat palungan, juga sehelai kertas persegi, dan sedikit sobekan kertas napkin berwarna kuning yang kami bawa. Maklum, masa itu kertas berwarna sedang langka dikota ini.
Sesuai petunjuk anak-anak itu menyobek kertasnya, lantas dengan hati-hati, menyusun sobekan pita-pita seakan-akan jerami kuning dipalungan. Potongan-potongan kecil kain flanel - digunting dari gaun-malam bekas dari seorang ibu Amerika saat meninggalkan Rusia - dipakai sebagai selimut kecil bayi itu. Bayi mirip bonekapun digunting dari lembaran kulit tipis yang kami bawa dari Amerika.

Mereka semua sibuk menyusun palungan masing-masing saat aku berjalan keliling, memperhatikan kalau-kalau ada yang butuh bantuan. Semuanya kelihatan beres, sampai aku tiba dimeja sikecil Misha (seorang anak laki-laki). Kelihatannya ia sekitar 6 tahun dan sudah menyelesaikan proyeknya.
Sewaktu kulihat palungan bocah kecil ini, saya heran bahwa bukannya satu, melainkan ada dua bayi didalamnya. Cepat kupanggil penterjemah agar menanyai anak ini kenapa ada dua bayi.
Dengan melipat tangannya dan mata menatap hasil karyanya, anak ini mulai mengulang kisah Natal dengan amat serius.
Untuk anak semuda dia yang baru sekali mendengar kisah Natal, ia mengurutkan semua kejadian demikian cermat dan telitinya - sampai pada bagian kisah dimana Maria meletakkan bayi itu kedalam palungan. Di sini si Misha mengubahnya. Ia membuat penutup akhir kisah ini demikian:

"Sewaktu Maria menaruh bayi itu dipalungan, Yesus lalu melihat aku dan bertanya apa aku punya tempat tinggal. Aku bilang aku tak punya mama dan tak punya papa, jadi aku tak punya tempat untuk tinggal. Lalu Yesus bilang aku sih boleh tinggal sama dia. Tapi aku bilang tidak bisa, sebab aku kan tidak punya apa-apa yang bisa kuberikan sebagai hadiah seperti orang-orang dalam kisah itu. Tapi aku begitu ingin tinggal bersamanya, jadi aku pikir, apa yah yang aku punya yang bisa dijadikan hadiah. Aku pikir barangkali kalau aku bantu menghangatkan dia, itu bisa jadi hadiah."
"Jadi aku bertanya pada Yesus, 'Kalau aku menghangatkanmu, cukup tidak itu sebagai kado?' Dan Yesus menjawab, 'Kalau kamu menjaga dan menghangatkan aku, itu bakal menjadi hadiah terbaik yang pernah diberikan siapapun padaku.' Jadi begitu, terus aku masuk dalam palungan itu, lantas Yesus melihatku dan bilang aku boleh kok tinggal bersamanya - untuk selamanya."

Saat sikecil Misha berhenti bercerita, air matanya menggenang meluber jatuh membasahi pipinya yang kecil. Wajahnya ia tutupi dengan tangannya, kepalanya ia jatuhkan ke meja dan seluruh tubuh dan pundaknya gemetar saat ia menangis tersedu.

Yatim piatu kecil ini telah menemukan seseorang yang takkan pernah melupakan atau meninggalkannya, yang takkan pernah berbuat zalim padanya, seseorang yang akan tetap tinggal dan menemaninya - untuk selamanya.

Thursday, December 3, 2009

Hadiah NATAL terINDAH........



Nasib Egar tidak sebaik hatinya. Dengan pendidikannya yg rendah, pria
berumur sekitar 30 tahun itu hanya seorang pekerja bangunan yg miskin.

Dan bagi seseorang yg hanya berjuang hidup untuk melewati hari demi hari,
natal tidak banyak berbeda dengan hari2 lainnya, karenanya apa yg terjadi
pada suatu malam natal itu tidak banyak yg diingatnya. Malam itu di seluruh negeri berlangsung kemeriahan suasana natal. Setiap orang mempersiapkan diri menghadapi makan malam yg berlimpah. Tapi di kantong Egar hanya terdapat $10, jumlah yg pas-pasan untuk makan malamnya dan tiket bis keBaldwin dimana dia mungkinmendapatkan pekerjaan untuk
ongkos hidupnya selama beberapa berikutnya.Maka menjelang malam, ketika lonceng & lagu2 natal terdengar dimana2, dan  senyum dan salam natal diucapkan tiap menit, Egar menaikkan kerah bajunya dan menunggu kedatangan bis pukul 20:00 yg akan membawanya ke Baldwin



Salju turun deras. Suhu jatuh pada tingkat yg menyakitkan dan perut Egar
mulai berbunyi karena lapar. Ia melihat jam di stasiun, dan memutuskan
untuk membeli hamburger dan kentang goreng ukuran ekstra, karena ia butuh
banyak energi untuk memindahkan salju sepanjang malam nanti.

‘Lagipula,’ pikirnya, ’sekarang adalah malam natal, setiap orang, bahkan
orang seperti saya sekalipun, harus makan sedikit lebih special dari
biasanya.’ Di tengah jalan ia melewati sebuah bangunan raksasa, dimana sebuah pesta
mewah sedang berlangsung. Ia mengintip ke dalam jendela. Ternyata itu
adalah pesta kanak2. Ratusan murid taman kanak2 dengan baju berwarna-warni
bermain-main dengan begitu riang. Orangtua mereka saling mengobrol satu sama
lain, tertawa keras dan saling olok. Sebuah pohon terang raksasa terletak
di tengah2 ruangan, kerlap-kerlip lampunya memancar keluar jendela dan
mencapai puluhan mobil2 mewah di pekarangan. Di bawah pohon terang terletak
ratusan hadiah2 natal dalam bungkus berwarna-warni. Di atas beberapa meja
raksasa tersusun puluhan piring2 yg berisi bermacam-macam makanan dan
minuman, menyebabkan perut Egar berbunyi semakin keras.

Dan ia mendengar bunyi perut kosong di sebelahnya. Ia menoleh, dan melihat
seorang gadis kecil, berjaket tipis, dan melihat ke dalam ruangan dengan
penuh perhatian. Umurnya sekitar 10 tahun. Ia tampak kotor & tangannya
gemetar. ‘Minta ampun nona kecil,’ Egar bertanya dengan pandangan tidak percaya,’
udara begitu dingin. Dimana orangtuamu?’ Gadis itu tidak bicara apa2. Ia
hanya melirik Egar sesaat, kemudian memperhatikan kembali anak2 kecil di
dalam ruangan, yang kini bertepuk tangan dengan riuh karena Sinterklas
masuk kedalam ruangan. ‘Sayang kau tidak bisa didalam sana


Egar menarik napas. Ia merasa begitu
kasihan pada gadis itu. Keduanya kembali memperhatikan pesta dengan diam2.
Sinterklas sekarang membagi-bagikan hadiah pada anak2, dan mereka meloncat
kesana-sini, memamerkan hadiah2 kepada orangtua mereka yg terus tertawa.

Mata gadis itu bersinar. Jelas ia membayangkan memegang salah satu hadiah
itu, dan imajinasi itu cukup menimbulkan secercah sinar dimatanya. Pada
saat yg bersamaan Egar bisa mendengar bunyi perutnya lagi.

Egar tidak bisa lagi menahan hatinya. Ia memegang tangan gadis itu &
berkata ‘Mari, akan saya belikan sebuah hadiah untukmu.’

‘Sungguh ?’ gadis itu bertanya dengan nada tidak percaya. ‘Ya. Tapi kita
akan mengisi perut dulu.’ Ia membawa gadis itu diatas bahunya dan berjalan
ke sebuah depot kecil. Tanpa berpikir tentang tiket bisnya ia membeli 2 buah
roti sandwich, 2 bungkus kentang goreng dan 2 gelas susu coklat. Sambil
makan ia mencari tahu tentang gadis itu.

Namanya Ellis dan ia baru kembali dari sebuah toko minuman dimana ibunya
bekerja paruh waktu sebagai kasir. Dia sedang dalam perjalanan pulang ke
rumah anak yatim St. Carolus, sebuah sekolah kecil yg dibiayai pemerintah
untuk anak2 miskin. Ibunya baru memberinya sepotong roti tawar untuk makan
malamnya. Egar menyuruh gadis itu untuk menyimpan rotinya untuk besok.

Sementara mereka bercakap2, Egar terus berpikir tentang hadiah apa yg bisa
didapatnya untuk Ellis. Ia kini hanya punya sekitar $5 dikantongnya. Ia
mengenal sopir bis, dan ia yakin sopir itu akan setuju bila ia membayar
bisnya kali berikutnya. Tapi tidak banyak toko2 yg buka disaat ini, dan yg
bukapun umumnya menaikkan harga2 mereka. Ia amat ragu2 apakah ia bisa
membeli sesuatu seharga $5.

Apapun yg terjadi, katanya pada dirinya sendiri, saya akan memberi gadis ini
hadiah, walaupun itu kalung saya sendiri.

Kalung yg melingkari lehernya adalah milik terakhirnya yg paling berharga.
Kalung itu adalah 24 karat murni, sepanjang kurang lebih 30 cm, seharga
ratusan dollar. Ibunya memberinya kalung itu beberapa saat sebelum
kematiannya.


Mereka mengunjungi beberapa toko tapi tak satupun yg punya sesuatu seharga
$5. Tepat ketika mereka mulai putus asa, mereka melihat sebuah toko kecil yg
agak gelap di ujung jalan, dengan tanda ‘BUKA’ di atas pintu.

Bergegas mereka masuk ke dalam. Pemilik toko tersenyum melihat kedatangan
mereka, dan dengan ramah mempersilakan mereka melihat2, tanpa peduli akan
baju2 mereka yg lusuh.

Mereka mulai melihat barang2 di balik kaca & mencari2 sesuatu yg mereka
sendiri belum tahu. Mata Ellis bersinar melihat deretan boneka beruang,
deretan kotak pensil, dan semua barang2 kecil yg tidak pernah dimilikinya.

Dan di rak paling ujung, hampir tertutup oleh buku cerita, mereka melihat
seuntai kalung. Kening Egar berkerut. Apakah itu kebetulan, atau natal
selalu menghadirkan keajaiban, kalung bersinar itu tampak begitu persis
sama dengan kalung Egar.

Dengan suara takut2 Egar meminta melihat kalung itu. Pemilik toko, seorang
pria tua dengan cahaya terang dimatanya dan jenggot yg lebih memutih,
mengeluarkan kalung itu dengan tersenyum.

Tangan Egar gemetar ketika ia melepaskan kalungnya sendiri untuk
dibandingkan pada kalung itu. ‘Yesus Kristus,’ Egar mengguman,’begitu sama
dan serupa.’ Kedua kalung itu sama panjangnya, sama mode rantainya, dan
sama bentuk salib yg tertera diatas bandulnya. Bahkan beratnyapun hampir
sama. Hanya kalung kedua itu jelas kalung imitasi. Dibalik bandulnya
tercetak: ‘Imitasi : Tembaga’.

‘Samakah mereka?’ Ellis bertanya dengan nada kekanak2an. Baginya kalung itu
begitu indah sehingga ia tidak berani menyentuhnya. Sesungguhnya itu akan
menjadi hadiah natal yg paling sempurna, kalau saja……kalau saja…….

"Berapa harganya, Pak ?" tanya Egar dengan suara serak karena
lidahnya
kering. "Sepuluh dollar." kata pemilik toko. Hilang sudah harapan
mereka. Perlahan ia mengembalikan kalung itu. Pemilik toko melihat kedua orang itu
berganti2, dan ia melihat Ellis yg tidak pernah melepaskan matanya dari
kalung itu. Senyumnya timbul, dan ia bertanya lembut "Berapa yg anda
punya, Pak ?" Egar menggelengkan kepalanya "Bahkan tidak sampai $5." Senyum pemilik
toko  semakin mengembang "Kalung itu milik kalian dengan harga $4." Baik
Egar  maupun Ellis memandang orang tua itu dengan pandangan tidak percaya.
"Bukankah sekarang hari Natal

?" Orang tua itu tersenyum lagi, "Bahkan bila
kalian berkenan, saya bisa mencetak pesan apapun dibalik bandul itu. Banyak
pembeli saya yg ingin begitu. Tentu saja untuk kalian juga gratis."

"Benar2 semangat natal." Pikir Egar dalam hati. Selama 5 menit orang
tua itu mencetak pesan berikut dibalik bandul : "Selamat Natal, Ellis Salam
Sayang, Sinterklas"


Ketika semuanya beres, Egar merasa bahwa ia memegang hadiah natal yg paling
sempurna seumur hidupnya. Dengan tersenyum Egar menyerahkan $4 pada orang
tua itu dan mengalungkan kalung itu keleher Ellis. Ellis hampir menangis
karena bahagia.

"Terima kasih. Tuhan memberkati anda, Pak. Selamat Natal." kata Egar
kepada orang tua itu. "Selamat natal teman2ku." Jawab pemilik toko,
senantiasa tersenyum. Mereka berdua keluar dari toko dengan bahagia. Salju turun lebih
deras tapi mereka merasakan kehangatan didalam tubuh. Bintang2 mulai muncul
di langit, dan sinar2 mereka membuat salju di jalan raya kebiru2an. Egar
memondong gadis itu diatas bahunya dan meloncat dari satu langkah ke langkah
yg lain. Ia belum pernah merasa begitu puas dalam hidupnya. Melihat tawa
riang gadis itu, ia merasa telah mendapat hadiah natal yg paling memuaskan
untuk dirinya sendiri. Ellis, dengan perut kenyang dan hadiah yg berharga
di lehernya, merasakan kegembiraan natal yg pertama dalam hidupnya.

Mereka bermain dan tertawa selama setengah jam, sebelum Egar melihat jam di
atas gereja dan memutuskan bahwa ia harus pergi ke stasiun bis. Karena itu
ia membawa gadis itu ketempat dimana ia menemukannya.

"Sekarang pulanglah, Ellis. Hati2 dijalan. Tuhan memberkatimu
selalu."
"Kemana anda pergi, Pak ?" tanya Ellis pada orang asing yg baik hati
itu.

"Saya harus pergi bekerja. Ingat sedapat mungkin bersekolahlah yg rajin.
Selamat natal, sayang." Ia mencium kening gadis itu, dan berdiri. Ellis
mengucapkan terima kasih dengan suaranya yg kecil, tersenyum dan berlari2
kecil ke asramanya. Kebahagiaan yg amat sangat membuat gadis kecil itu lupa
menanyakan nama teman barunya.

Egar merasa begitu hangat didalam hatinya. Ia tertawa puas, dan berjalan
menuju ke stasiun bis. Pengemudi bis mengenalnya, dan sebelum Egar punya
kesempatan untuk bicara apapun, ia menunjuk salah satu bangku yg masih
kosong.

"Duduk di kursi kesukaanmu, saudaraku, dan jangan cemaskan apapun.
Sekarang malam natal." Egar mengucapkan terima kasih, dan setelah saling menukar
salam natal ia duduk di kursi kesukaannya. Bis bergerak, dan Egar membelai
kalung yg ada di dalam kantongnya. Ia tidak pernah mengenakan kalung itu
dilehernya, tapi ia punya kebiasaan untuk mengelus kalung itu setiap saat.

Dan kini ia merasakan perbedaan dalam rabaannya. Keningnya berkerut ketika
ia mengeluarkan kalung itu dari kantongnya, dan membaca sebuah kalimat yg
baru diukir dibalik bandulnya :

"Selamat Natal, Ellis Salam Sayang, Sinterklas"
Saat itu ia baru sadar bahwa ia telah keliru memberikan hadiah untuk
Ellis……

***
Selama 12 tahun berikutnya hidup memperlakukan Egar dengan amat keras. Dalam
usahanya mencari pekerjaan yg lebih baik, ia harus terus menerus berpindah
dari satu kota ke kota lainnya. Akhirnya ia bekerja sebagai pekerja bangunan
di Marengo, sekitar 1000 km dari kampung halamannya. Dan ia masih belum bisa
menemukan pekerjaan yg cukup baik untuk makan lebih dari sekedar makanan
kecil atau kentang goreng. Karena bekerja terlalu keras di bawah matahari & hujan salju, kesehatannya menurun drastis. Bahkan sebelum umurnya mencapai 45 tahun, ia sudah tampak
begitu tua dan kurus. Suatu hari menjelang natal, Egar digotong ke rumah
sakit karena pingsan kecapaian.

Hidup tampaknya akan berakhir untuk Egar. Tanpa uang sepeserpun di kantong
dan sanak famili yg menjenguk, ia kini terbaring di kamar paling suram di
rumah sakit milik pemerintah.

Malam natal itu, ketika setiap orang di dunia menyanyikan lagu2 natal,
denyut nadi Egar melemah, dan ia jatuh ke dalam alam tak sadar.

Direktur rumah sakit itu, yg menyempatkan diri menyalami pasien2nya, sedang
bersiap2 untuk kembali ke pesta keluarganya ketika ia melihat pintu gudang
terbuka sedikit.

Ia memeriksa buku ditangannya & mengerutkan keningnya. Ruang itu seharusnya

kosong. Dia mengetuk pintu, tidak ada jawaban. Dia membuka pintu itu dan
menyalakan lampu. Hal pertama yg dilihatnya adalah seorang tua kurus yg
tergeletak diatas ranjang, disebelah sapu2 & kain lap. Tapi perhatiannya
tersedot pada sesuatu yg bersinar suram didadanya, yg memantulkan sinar
lampu yg menerobos masuk lewat pintu yg terbuka.

Dia mendekat dan mulai melihat benda yg bersinar itu, yaitu bandul kalung yg
sudah kehitam2an karena kualitas logam yg tidak baik. Tapi sesuatu pada
kalung itu membuat hatinya berdebar. Dengan hati2 ia memeriksa bandul itu
dan membaca kalimat yg tercetak dibaliknya.

"Selamat Natal, Ellis Salam Sayang, Sinterklas"
Air mata turun di pipi Ellis. Inilah orang yg paling diharapkan untuk
bertemu seumur hidupnya. Inilah orang yg membuat masa kanak2nya begitu tak terlupakan hanya dengan 1 malam saja, dan inilah orang yg membuatnya percaya bahwa sesungguhnya Sinterklas memang ada didunia ini.

Dia memeriksa denyut nadi Egar dan mengangguk. Tangannya yg terlatih
memberitahu harapan masih ada. Ia memanggil kamar darurat, dan bergerak
cepat ke kantornya. Malam natal yg sunyi itu dipecahkan dengan kesibukan
mendadak dan bunyi detak langkah2 kaki puluhan perawat & dokter jaga.

"Jangan kuatir, Pak…. Siapapun nama anda. Ellis disini sekarang, dan
Ellis akan mengurus Sinterklasnya yg tersayang." Dia menyentuh kalung di
lehernya. Rantai emas itu bersinar begitu terang sehingga seisi ruangan
terasa hangat walaupun salju mulai menderas diluar. Ia merasa begitu kuat,
perasaan yg didapatnya tiap ia menyentuh kalung itu. Malam ini dia tidak
harus bertanya2 lagi karena ia baru saja menemukan orang yg memberinya
hadiah natal yg paling sempurna sepanjang segala jaman……….

Wednesday, December 2, 2009

CINTA & WAKTU...


Di sebuah pulau yg terasing dr khdpn manusia,hdplah perasaan" layakny manusia,bernama KEGEMBIRAAN, KESEDIHAN, PENGETAHUAN, KEKAYAAN,CINTA,Dll. 
Mereka hdp dgn aman dan damai d pulau tsb hingga suatu hari terdengar kabar bhw pulau tsb akan tenggelam. Seisi pulau mempersiapkan diri u/ meninggalkan pulau,hingga ketika tiba wktny pulau perlahan mulai tenggelam. Mereka brkt dg kendaraanny masing",kecuali CINTA yg memutuskan u/ tinggal. Namun saat pulau tsb sdh mulai separuhnya tenggelam, CINTA pun berteriak memanggil siapa saja yg lewat.

"KEKAYAAN, dapatkah kau membawaku pergi?" tanya CINTA pada KEKAYAAN yg lewat dg balon udara yg penuh berisi emas."Maaf CINTA terlalu banyak emas di balon udaraku,aku tdk bisa menolongmu." tolak KEKAYAAN. Dan KEKAYAAN pun berlalu terbang meninggi.

Tak lama kemudian KESEDIHAN lewat dg perahunya."KESEDIHAN,dapat kah kau menolongku keluar dari sini?" tanya CINTA pada KESEDIHAN. KESEDIHAN menjawab "Maaf CINTA,aku terlebih sedih u/ membawamu,aku memilih u/ pergi dg kesendirianku." KESEDIHAN pun berlalu menjauh.

CINTA masih menunggu hingga kemudian KEGEMBIRAAN lewat dg pesawat kecilnya. "KEGEMBIRAAN,bawalah aku bersamamu!" teriak CINTA memanggil. Namun KEGEMBIRAAN terlalu gembira hingga ia tdk mendengar.

Akhirnya,CINTA merasa putus asa,hampir saja ia menyerah dan pasrah akan tenggelam bersama pulau, hingga ia mendengar satu suara memanggilnya. "Marilah, CINTA ikut dg ku." Seorang tua yg menaiki sampan butut,menghampirinya. CINTA merasa senang dan terselamatkan, ia pun naik sampan bersama si tua itu. Hingga mereka sampai di pulau kering di mana yg lain sudah berkumpul.

CINTA begitu senang hingga lupa menanyakan nama si tua yg terus berlalu. Hingga suatu saat CINTA teringat pada si tua itu,ia pun mendatangi seorang tua lainnya bernama PENGETAHUAN, dan menanyakan siapakah si tua yg telah menolongnya." namanya adalah waktu", "Kenapa WAKTU?" Mau menolongku? Tanya CINTA kemudian, PENGETAHUAN tersenyum bijak dan berkata,"Karena hanya WAKTU yg dpt mengerti betapa besar dan berartinya CINTA...."